Kamis, 16 Februari 2017
Anis-Sandi Berpeluang Besar memenangkan Pilkada DKI Putaran ke dua
Jakarta (14/2-2017)
Berdasarkan hasil hitungan cepat (Quick Count) Pilkada DKI pada tanggal 14 Februari 2017, Pilkada DKI akan berlangsung dua putaran.
Berikut hasil hitung cepat untuk ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta:
Litbang Kompas
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 17,37 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 42,87 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,76 persen
Cyrus Network
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 17,13 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 42,92 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,94 persen
PolMark Indonesia
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 17,96 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 42,27 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,77 persen
LSI
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 16,87 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 43,22 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 39,91 persen
SMRC
Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni: 16,69 persen
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat: 43,19 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno: 40,12 persen
Hasil hitung cepat bukanlah hasil real penghitungan perolehan suara Pilkada DKI Jakarta. Proses rekapitulasi suara Pilkada DKI Jakarta akan dilaksanakan oleh KPUD DKI Jakarta dari tanggal 16 sampai 27 Februari 2017, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan pihak KPUD.
Metode dan sebaran sampel masing-masing lembaga survei berbeda. Begitu pula dengan teknik pengolahan data hingga memunculkan hasil akhir seperti yang tertera di atas.
Setelah pengumuman hasil Qiuck Count, Joti News mengambil sebuah pernyataan atau analisa dari pengamat politik Helmi Alkaf. Informasi yang beredar pasangan no. 2 sudah mulai khawatir dikarenakan suara yg bisa diperoleh maksimal hanya 40 persen menurut Quick account, sehingga tim sukses mencari kesalahan yang dilakukan oleh KPUD dengan dalih menghalangi seseorang yg menggunakan hak pilih, karena di putaran kedua ini banyak yang memprediksi pasangan No. 1 sudah pasti akan membela pasangan No. 3, sehingga secara matematika dengan perolehan suara secara Quick account maka suara yang di peroleh pasangan No. 3 akan mendapatkan suara 60 persen.
Pasangan No. 2 sudah terperangkap dalam sistem politik yg dilakukan oleh SBY, dimana pilkada DKI sengaja dibuat 3 pasang bukan utk memecah belahan suara umat Islam akan tetapi utk mengukur kekuatan lawan seberapa kuat lawan dimana lawan tsb adalah no. 2, sehingga kekuatan ataupun kapasitas no. 2 sudah bisa diukur karena kali sampe putaran ke dua suaranya melebihi putaran pertama sudah dipastikan adanya kecurangan yang dilakukan secara masif dan terstruktur seperti apa yg mereka lakukan pada waktu pilpres 2014, dan pada waktu itu SBY jg mengetahui kecurangan tsb akan tetapi SBY berusaha bersikap netral dan terbukti dengan sikap netral nya justru sekarang diserang habis habisan, sehingga malam ini sudah jelas SBY akan bersikap kemana.
Inilah namanya politik jebakan yg sangat jenius. walaupun SBY harus mengorbankan anaknya demi agar DKI Jakarta tidak dikuasai oleh orang orang yg sudah terindikasi PKI. dimana DKI adalah barometer indonesia, apabila ingin kuasai Indonesia maka kuasai dulu DKI Jakarta. Inilah jasa SBY yang dilakukan utk menjaga agar NKRI ini tetap utuh, dan saya pribadi selaku rakyat Indonesia sangat berterima kasih kepada SBY, walaupun sebelumnya saya membenci SBY pada waktu msh menjadi presiden, tetapi skrg saya dibukakan mata saya dan mata hati saya bagaiman seorang mantan presiden rela berkorban demi kehormatan bangsa ini. Save NKRI. (ALB)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar